Selasa, 01 November 2011

DALIL-DALIL PENTINGNYA BELAJAR BAHASA ARAB

Dalil-dalil Pentingnya Belajar Bahasa Arab
H. Ilyas Rifai

1. Al-Quran

"Sesungguhnya kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya" (Q.S. Yusuf: 2).

2. Al-Hadits
"Cintailah bahasa arab karena tiga: karena aku berbangsa arab, Al-qur’an berbahasa arab, dan kalam ahlu al-jannah (penduduk surga) adalah bahasa arab”. Disebutkan oleh ibnu ‘asakir dalam terjemah zahir ibn Muhammad ibn ya’qub.

3. Atsar Sahabat
Salah seorang Khulafaur Rasyidin, ‘Umar bin Khaththab ra. menulis surat untuk Abu Musa Al Asy’ari yang isinya mengatakan,”Amma ba’du. Dalamilah ilmu As Sunnah. Pelajarilah ilmu bahasa Arab. I’rablah Al Qur’an, sebab ia itu berbahasa Arab”. Beliau pun berpesan,”Pelajarilah bahasa Arab karena sesungguhnya ia adalah bagian penting dari agama kalian. Pelajarilah ilmu waris, karena ia juga bagian penting dari agama kalian.”

4. Qoul Ulama
Imam Syafi’i rahimahullah berkata: “Tidaklah kebodohan dan perbedaan-perbedaan yang terjadi pada manusia (umat muslim) melainkan karena mereka meninggalkan bahasa Arab dan mereka lebih memilih bahasa Aristoteles (bahasa orang barat)”.
“Tak seorang pun akan mengetahui jelasnya ilmu-ilmu dalam Al Qur’an selama orang itu tidak mengetahui luasnya bahasa Arab, luasnya cakupannya, luasnya masalah dan tingkatannya dan barangsiapa memahaminya maka dia akan selamat dari terkena syubhat seperti yang terjadi pada orang-orang yang tidak memahaminya”.
Beliau pun berkata : “Wajib bagi setiap muslim mempelajari bahasa Arab dengan mengerahkan kemampuannya, hingga ia dapat bersyahadat dengannya, dapat membaca al-Qur’an dengannya, dapat mengucapkan dzikir-dzikir yang diwajibkan baginya (dalam shalat) berupa takbir, tasbih, tasyahud dan lain-lainnya.” (Ar-Risalah 48-50, Ithaful Ilfi hal. 15)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan,”Hal itu dikarenakan bahasa Arab merupakan bahasa yang paling fasih, bahasa yang paling gamblang dalam hal pemaparan, bahasa yang paling luas cakupannya, dan bahasa yang paling banyak menyentuh berbagai makna yang dirasakan di dalam jiwa. Oleh sebab itulah kitab yang paling mulia ini diturunkan dengan bahasa yang paling mulia pula…”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah telah berkata: “Merupakan sesuatu yang sudah diketahui bersama bahwasanya belajar dan mengajarkan bahasa Arab hukumnya fardhu kifayah” dan beliau juga berkata, “Sesungguhnya bahasa Arab merupakan bagian dari agama dan mengetahuinya wajib, karena memahami Al-Qur’an dan sunnah wajib. Dan keduanya tidak dapat dipahami kecuali dengan bahasa Arab dan apa yang suatu kewajiban tidak akan terwujud kecuali dengannya maka sesuatu itu menjadi wajib.”
Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,“Sesungguhnya tatkala Allah menurunkan kitab-Nya dengan bahasa Arab, tatkala Allah mengangkat Rasul-Nya sebagai penyampai Al Kitab dan Al Hikmah dari-Nya melalui lisan beliau yang berbahasa Arab, tatkala Allah menjadikan orang-orang yang terdahulu membela agama ini dalam keadaan bertutur kata dengan bahasa itu, dan terlebih lagi tatkala tidak ada cara lain untuk
memelihara keutuhan ajaran agama dan memahaminya kecuali dengan menjaga bahasa ini, maka itu berarti mempelajarinya termasuk bagian dari ajaran agama dan akan lebih memudahkan orang dalam menegakkan syi’ar-syi’ar agama.”

Syaikhul Islam mengatakan: “Dan sesungguhnya bahasa Arab itu sendiri bagian dari agama dan hukum mempelajarinya adalah wajib, karena memahami Al-Kitab dan As-Sunnah itu wajib dan keduanya tidaklah bisa difahami kecuali dengan memahami bahasa Arab. Hal ini sesuai dengan kaidah : Apa yang tidak sempurna suatu kewajiban kecuali dengannya maka ia juga hukumnya wajib. Namun disana ada bagian dari bahasa Arab yang wajib ‘ain dan ada yang wajib kifayah.” (Iqtidho shirothil mustaqim)

As-Suyuti rahimahullah berkata: “Sesungguhnya saya telah menemukan orang-orang sebelum Imam Syafi’i, mereka mengisyaratkan seperti yang saya duga bahwa sebab terjadinya bid’ah adalah tidak memahami bahasa Arab”.

Hasan Bashri berkata terhadap orang-orang Ahlu Bid’ah, “Yang menghancurkan mereka adalah ketidaktahuan mereka terhadap bahasa Arab”.

Musthofa Shodiq Arrofi’ berkata, “Tidaklah bahasa suatu kaum itu rendah kecuali mereka akan direndahkan dan kemuliaannya tidaklah menjadikan kekuasaan itu pergi meninggalkan mereka. Oleh karena itu, penjajah asing mewajibkan (bahasa mereka untuk dipelajari) kepada kaum yang mereka jajah".

Disarikan dari berbagai sumber.

7 KUNCI SUKSES BELAJAR BAHASA ARAB

7 Kunci Kiat Sukses Belajar Bahasa Arab (bag-1)
Oleh: M. Asdi Nurkholis, S.Pd.I.*

Bahasa Arab adalah bahasa kaum muslimin. Hingga akhir zaman nanti bahasa ini akan tetap langgeng sebab al-Qur`an dan hadits Rasulullah shalallahu`alahi wa sallam akan terus ada dan eksis hingga saat itu. Maka sudah menjadi kewajiban kita sebagai kaum muslimin untuk mempelajarinya dan berusaha seoptimal mungkin untuk dapat menguasai kemahiran bahasa ini. Bahkan wajib bagi kita untuk mendalaminya sebagai sarana kita untuk memahami kitabullah dan sunnah Rasulullah shalallahu`alaihi wa sallam.
Berikut kami paparkan kiat sukses dalam mempelajari bahasa Arab, dan tulisan ini kami sadurkan dari beberapa buku adab menuntu ilmu, materi-materi pelatihan pengajaran bahasa Arab untuk orang non Arab, jurnal pembelajaran bahasa Arab dan juga pengalaman pribadi penulis selama proses belajar bahasa Arab.
Penulis melihat kiat sukses ini dari dua sisi, pertama: sisi intern; yaitu dari dalam diri para pembelajar bahasa Arab; yang terdiri dari niat, tekad, senang dan sabar. Kedua: dari sisi ekstern; yaitu dari sisi bahasa Arab itu sendiri; yang terdiri dari bahasa adalah komunikasi, belajarlah bahasa itu dan biasakan belajar terbimbing.

Intern:
1. Niat
Niat merupakan pondasi penting yang harus kita tanyakan kepada diri kita sebelum kita melangkah lebih jauh. Kita sebagai seorang muslim patut dan harus menata kembali niat kita dalam setiap langkah untuk sebuah urusan kita, jangan sampai kita sudah melangkah begitu jauh, mengorbankan seluruh harta, jiwa, raga dan harta, namun sayang beribu sayang semua yang kita keluarkan sia-sia bagai debu berterbangan tiada artinya disebabkan karena niatnya yang kurang pas dan jauh melenceng dari tuntunan syari`at Islam. Sebagai seorang muslim, kita diberikan kemudahan oleh Allah ta`ala agar menjadikan setiap aktivitas kita bernilai ibadah, tentunya dengan niat semata-mata mengharap wajah dan ridha Allah subhanahu wa ta`ala. Kita ingat apa yang dikatakan oleh Sufyan Al-Tsauri rahimahullah:
“ما عالجت شيئا أشد علي من نيتي”
“Tidak ada sesuatu yang lebih sulit bagiku kecuali niatku”1.
Dalam mempelajari bahasa Arab, niat awal kita tentunya hanya untuk mengharap wajah Allah ta`ala. Belajar bahasa Arab bukan untuk riya`, pamer, biar dikatakan syekh Arab, bukan pula untuk tujuan duniawi, menambah sisi materi, atau untuk mengangkat harga diri dan lain sebagainya. Rasulullah shalallahu`alaihi wa sallam bersabda:
« من تعلم علمًا يبتغي به وجه الله - عز وجل - لا يتعلمه إلا ليصيب به عرضًا من الدنيا
لم يجد عرف الجنة يوم القيامة »
“Barang siapa yang belajar suatu ilmu dengan mengharap wajah Allah `azza wa jalla, kemudian dia tidak belajar kecuali hanya untuk mendapatkan secuil dari urusan dunia, maka sedikitpun dia tidak akan mendapatkan bau harumnya surga”2.
Perlu diingat, bahwa ketika kita belajar bahasa Arab, kita tidak hanya belajar bahasa Arab itu semata, namun sambil belajar kita juga berharap dapat meningkatkan kualitas pengetahuan keislaman kita dan pengetahuan umum yang tidak bertentangan dengan syari`at Islam3.
2. Tekad
Sebuah rencana pasti mempunyai tujuan, untuk mencapai tujuan tersebut harus bermodalkan tekad yang kuat dan bersungguh-sungguh, terus berjuang pantang menyerah. Ada sebuah ungkapan Arab yang mengatakan:
فإن العلم لا يُنَال براحة الجسم
“Bahwa Ilmu itu tidak akan pernah didapat dengan bersantai-santai”.
Kita lihat bagaimana kisah Imam Al-Kasa`I, Imam penduduk Kufah dalam ilmu Nahwu. Ketika beliau memulai belajar nahwu, beliau merasa tidak pernah bisa dan hampir putus asa, suatu hari beliau melihat seekor semut merangkak di dinding membawa sepotong makanan, ketika mulai merangkak dia terjatuh, lalu bangun kembali, membawa makanan tadi dan terus merambat ke dinding, dia terus berusaha dan bertekad untuk terus membawa makan tersebut dan berjalan. Imam al-Kasa`I berkata: “Semut ini begitu kuat tekadnya hingga sampai ke tujuan”, maka beliau pun terus berjuang dan akhirnya menjadi Imam dalam ilmu nahwu4.
Dalam sebuah pepatah Arab dikatakan:
من جدّ وجد
“Barang siapa bersungguh-sungguh pasti ia akan mendapatkan”.
Fenomena perjalanan dalam mempelajari bahasa Arab, orang akan terlihat begitu semangat dan menggebu-nggebu diawal-awal belajar, namun setelah dua atau tiga pekan berjalan, akan terjadi seleksi alami, satu persatu berguguran absen tidak bisa ikut belajar bahasa Arab. Maka dari sini perlunya tekad yang bulat dan kesungguhan dalam belajar bahasa Arab untuk mencapai tujuan yang kita cita-citakan.
3. Senang
Kecintaan kapada bahasa Arab menjadi sebuah harga mati sebagai sarana untuk meraih kesuksesan dalam mempelajarinya. Seseorang yang memiliki kecintaan kepada sesuatu atau kepada seseorang pasti dia akan mengelu-elukannya, dan terus berusaha untuk bisa mendapatkannya walaupun harus berkorban, baik waktu, biaya maupun tenaga. Orang yang senang dengan salah satu mata kuliah pasti dia akan rajin masuk kelas walau kadang lagi sakit, merasa rugi kalau ketinggalan, merasa mudah dan cepat memahaminya serta hari-harinya pun tidak terlepas dari pembicaraan isi mata kuliah tersebut.
Lebih-lebih kita sebagai seorang muslim, seharusnya kita harus lebih mencintai dan bangga dengan bahasa Arab dibanding bahasa asing lainnya, sebab bahasa Arab adalah bahasanya umat Islam, bahasa al-Qur`an, bahasa wahyu Allah, bahasa para penduduk surga. Lalu apakah layak kita lebih mencintai bahasa asing selain bahasa Arab?
Coba kita melihat sejenak bagaimana para ulama Islam terdahulu, yang mungkin nama-nama mereka sering kita dengar seperti Sibawaih, al-Zamakhsyari, al-khowarizmi, apakah mereka orang-orang Arab yang tadinya mahir berbahasa Arab? Jawabannya ternyata mereka bukan orang Arab dan awalnya tidak bisa berbahasa Arab. Namun mereka terus belajar karena mereka seorang muslim dan mereka mencintai bahasa Arab.
Al-Khowarizmi pernah mengatakan: “Demi Allah, kefasihanku terhadap bahasa Arab lebih aku cintai dari pada kebanggaanku terhadap bahasa Persia”5.
4. Sabar
فَصَبْرٌ جَمِيلٌ “Sabar itu Indah” begitulah Allah ta`ala menyebutnya dalam surat Yusuf ayat 18. Yang mengenarai begitu pentingnya kedudukan sabar dalam kehidupan kita.
Ketika belajar bahasa Arab, kita perlu mempertebal kesabaran, jangan mudah jenuh, bosan dan menjauhkan rasa malas dari diri kita. Tidak mungkin orang akan membangun rumah langsung dari atapnya, pasti dia akan memulai membangun dari pondasi yang kuat dan kokoh. Dipermulaan belajar bahasa Arab kita akan belajar dari materi-materi dasar terlebih dahulu, kemudian baru masuk ke materi yang lebih tinggi dan begitu seterusnya, kita akan memulainya dari jilid satu, dua dan seterusnya. Dan tidak akan pernah loncat dari satu jilid ke jilid yang lain kecuali dengan berurutan. Dalam kaidah bahasa Arab disebutkan:
من لم يتقن الأصول؛ حرم الوصول
“Barang siapa yang tidak kuat dasar ilmunya, maka dia akan terhalang untuk sampai kepada ilmu yang ia pelajari”6.
____________________________________________________
*Alumni Pendidikan Bahasa Arab UIN Sunan Kali Jaga Yogjakarta dan Institut Arabic Language King Saud University Riyadh Saudi Arabia.
Catatan kaki:
1 Bakr Abdullah Abu Zaid, Hilyatu Thalib al-Ilm, Dar al-`Ashimah, 1415, hal. 11
2 HR. Ahmad 2/338, al-Hakim mengatakan: hadits shahih dengan sanad yang tsiqah.
3 Abdurrahman bin Ibrahim Al-Fauzan, Muqoddimah Al-`Arabiyah Baina Yadaik, Al-`Arabiyah Li Al-Jami`, 1428.
4 Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Kitab al-Ilm, hal. 69.
5 Syabib Muhammad al-Haqbani, ahammiyyah al-Lughah al-Arabiyah qadiman wa haditsan, al-Arabiyah majallah ta`lim al-lughah al-Arabiyah, volume 2, no. 2, Januari 2006, hal. 101.
6 Op.cit Bakr Abdullah Abu Zaid, hal. 25

Senin, 24 Oktober 2011

Hayya Nadrus Al-Lughah Al-Arabiyyah

حَيَّ نَدْرُسُ اللُّغَةَ العَرَبيَّةَ

نَحْنُ نَدْرُسُ اللُّغَةَ العَرَبيَّةَ
نَحْنُ نَفْهَمُ اللُّغَةَ العَرَبيَّةَ
لُغَةُ القُرْآنِ وَلُغَةُ السُّنَّةِ وَالكُتُبِ الإِسْلاَمِيَّةِ
نَحْنُ نُحِبُّ اللُّغَةَ العَرَبيَّةَ
نَحْنُ نَنْشُرُ اللُّغَةَ العَرَبيَّةَ
لُغَةُ الجَنَّةِ وَلُغَةُ المُسْلِمِيْنَ فِى أَنْحَاءِ العَالَمِ

<فَيَا أَيــُّهَا الإِخْوَانُ
حَيَّ عَلَى دَرْسِهَا
حَيَّ عَلَى نَشْرِهَا لإِعْلاَءِ كَلِمَاتِ اللهِ
أَيــَّتُهَا الأَخَوَاتُ
حَيَّ عَلَى دَرْسِهَا
حَيَّ عَلَى نَشْرِهَا فِى أَنْحَاءِ العَالَمِ

Mahfudhat

Mahfudhat
Abdul Al-Aziz

1. Barangsiapa bersungguh-sungguh, dapatlah ia
من جدّ وجد
2. Tuntutlah ilmu sejak dari buaian hingga ke liang kubur
أطلب العلم من المهد الى اللحد
3. Barangsiapa menanam pasti akan memetik (mengetam)
من يزرع يحسد
4. Tidak ada kenikmatan kecuali setelah kepayahan
وما اللذّة الى بعد التعب
5. Seandainya tiada berilmu niscaya manusia itu seperti binatang
لولا العلم لكان الناس كالبهائم
6. Sebaik-baik teman duduk pada setiap waktu adalah buku
خير جليس فى الزمان كتاب
7. Barangsiapa tahu jauhnya perjalanan, bersiap-siaplah ia
من عرف بعد السّفر استعدّ
8. Tergelincirnya kaki itu lebih selamat daripada tergelincirnya lidah
عثرة القدم أسلم من عشرة اللسان
9. Hamba sahaya itu harus dipukul dengan tongkat, dan orang yang merdeka (bukan budak) cukuplah dengan isyarat.
العبد يضرب بالعصا والحرّ تكفيه الاشارة
10. Awal kemarahan itu adalah ketidakwarasan dan akhirnya adalah penyesalan
أوّل الغضب جنون وآخره ندم
11. Segala sesuatu apabila banyak menjadi murah, kecuali budi pekerti
كلّ شيئ إذا كثر رخص إلاّ الأدب
12. Barangsiapa berjalan pada jalannya, sampailah ia.
من سار على الدرب وصل
13. Pokok segala dosa itu adalah kebohongan.
رأس الذنوب الكذب
14. Bekerja itu membuat yang sukar menjadi mudah.
العمل يجعل الصعب سهلا
15. Tuntutlah ilmu walaupun di negeri Cina
أطلب العلم ولو بالصين
16. Temanmu adalah yang menangisimu (membuatmu menangis), bukan orang yang menertawakanmu (membuatmu tertawa).
صديقك من أبكاك لا من أضحكك
17. Cobalah dan perhatikanlah, niscaya kau menjadi orang yang tahu.
جرّب ولاحظ تكن عارفا
18. Tidak akan kembali hari-hari yang telah berlalu.
لن ترجع الأيّام التى مضت
19. Barangsiapa sedikit benarnya/kejujurannya, sedikit pulalah temannya.
من قلّ صدقه قلّ صديقه
20. Pergaulilah orang yang jujur dan menepati janji.
جالس أهل الصّدق والوفاء
21. Ilmu tiada amalan bagaikan pohon tidak berbua
العلم بلا عمل كالشجر بلا ثمر
22. Balasan suatu kejahatan itu adalah kejahatan yang sama dengannya
فجزاء سيّئة سيّئة مثلها
23. Barangsiapa yang menggali lubang akan terperosoklah ia di dalamnya
من حفر حفرة وقع فيها
24. Bukanlah cela itu bagi orang yang miskin, tapi cela itu terletak pada orang yang kikir
ليس العيب لمن كان فقيرا بل العيب لمن كان بخيلا
25. Sebaik-baiknya teman itu adalah yang menunjukkanmu kepada kebaikan.
خير الأصحاب من يدلّك على الخير

TIPS MEMPELAJARI BAHASA ARAB

Tips Mempelajari Bahasa Arab
Rian Permana

Kebanyakan orang merasa bahwa mempelajari bahasa arab itu sangat sulit, mereka sudah mengikuti kursus bahasa arab berkali-kali, akan tetapi mereka masih saja tidak bisa menguasai bahasa arab, yang akhirnya mereka beranggapan “belajar bahasa arab sangatlah sulit”. Sebenarnya apa yang membuat orang merasa sulit untuk mempelajari bahasa arab, bukankah Allah telah mengatakan bahwa agama ini sangat mudah untuk dipelajari?? Lantas kenapa mereka tetap saja tidak bisa menguasai bahasa arab?? jawabannya, karena mereka tidak mengetahui caranya…

Berikut ini adalah tips-tips bagi yang ingin mempelajari bahasa arab dengan mudah dan cepat..: )

1. Ikhlaskan niat hanya untuk Allah

Banyak orang ingin mempelajari bahasa arab hanya karena ia ingin bekerja atau sekolah di negri arab dan yang parahnya ada orang yang ingin mempelajari bahasa arab hanya karena gengsi akibat teman-temannya bisa bahasa arab. Niat yang demikian inilah salah satu penyebab kita menjadi sulit untuk mempelajari bahasa arab, karena ketika kita meniatkan mempelajari bahasa arab karena Allah, maka niscaya Allah akan membantu kita untuk memudahkan di dalam mempelajari dan mengamalkannya, dimana Allah telah berfirman :

إِن تَنصُرُوا اللهَ يَنصُرْكُمْ
“jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Allah akan menolongmu” (muhammad : 7)

Salah satu bentuk menolong agama Allah, adalah dengan mengagungkan syiarnya, dan bahasa arab merupakan syiar dari agama islam.

Dari hal ini, marilah kita luruskan niat kita, ikhlaskan niat kita terlebih dahulu untuk mempelajari bahasa arab karena Allah, agar Allah memudahkan kita di dalam memahami dan mengamalkan bahasa arab, disamping menjadi amal kita dalam upaya beribadah kepada Allah ta’ala.

2. Belajar bahasa arab dari dasar dan tidak terburu-buru.

Salah satu hal yang menyebabkan kita sulit mempelajari bahasa arab adalah karena kita tidak sabar di dalam mempelajarinya. Banyak di antara saudara kita yang mengikuti kursus bahasa arab lebih dari satu tempat, bahkan ada yang mengikuti 2 tempat kursus dalam seminggu dengan pembahasan yang berbeda-beda. Hal ini merupakan suatu kesalahan, di dalam belajar bahasa arab kita dituntut untuk belajar tahap demi tahap, yang mana kita tidak akan bisa menguasai pelajaran bahasa arab selanjutnya sebelum memepelajari dan memahami pelajaran dasar-dasarnya. Hal ini telah dijelaskan dan dibuat kaidah oleh para ulama.

منِ اسْتعجلَ شيئاً قبلَ أَوانِهِ عُوقِبَ بحرمانِهِ

“barangsiapa yang terburu-buru dalam mendapatkan sesuatu, maka ia dihukum untuk tidak mendapatkannya”

Oleh karenanya, hendaknya kita mempelajari bahasa arab secara bertahap dan tidak terburu-buru. Sabar adalah kunci keberhasilan.. : )

3. Pada awal belajar, hendaknya belajar hanya pada satu guru.

Merupakan suatu kesalahan ketika kita menjadikan banyak orang menjadi guru kita dalam mempelajari bahasa arab dasar. Hal ini karena, setiap orang pastinya mempunyai metode pembelajaran yang berbeda-beda, sehingga ketika kita tidak terbiasa dengan perubahan metode cara ngajar, menyebabkan kita menjadi sulit untuk memahami dan akhirnya menjadi bingung dan pusing.

Pada awal mula kita mempelajari bahasa arab, cukuplah satu orang yang menjadi guru kita, adapun jika kita sudah cukup mahir dalam bahasa arab, atau sudah paham mengenai dasar-dasar bahasa arab, maka hal ini tidak mengapa jika kita berguru dengan banyak orang.

Praktek dalam hal ini sudah diterapkan oleh para ulama-ulama kita, pada awal mereka belajar agama, mereka hanya mengambil ilmu pada satu orang guru saja, kemudian setelah mengetahui dasar-dasar agama, barulah mereka mencari guru-guru yang lain. Sehingga wajar jika kita melihat ada ulama yang mazhabnya mencolok ke imam syafi’I saja atau imam ahmad saja.

Perlu diketahui, belajar hanya semata-mata dari buku, tidak menjamin kita menjadi orang yang ahli bahasa arab jika masih dalam taraf awal, lain cerita jika sudah memahami dasar-dasarnya. Karena sebagaimana sudah dijelaskan, metode pembelajaran setiap orang dan buku berbeda-beda, jika kita tidak ada pemahaman dasarnya, maka bingung dan pusing adalah akibatnya…: )

4. Mempraktekkan ilmu yang telah dipelajari.

Jika kita tidak mempunyai teman untuk mempraktekkan ilmu yang sudah dipelajari, Al-qur’an adalah solusi tepat dan merupakan teman setia yang akan membimbing kita di dalam memahami bahasa arab, terutama dalam masalah ilmu nahwu.

Dari pelajaran yang telah diberikan, coba diterapkan dengan dibantu Al-qur’an, cari mana saja isim, fi’il dan huruf atau isim dhomir, isim maqsur dan lain-lainnya. Begitu juga dengan keadaan katanya, apakah marfu, mansub atau majrur. Dengan hal ini, kita akan terbiasa dengan kata-kata tersebut, ketika kita menemukan kata asing, kita melihat kembali pelajaran atau buku bahasa arabnya, sehingga kita menjadi lancar di dalam membedakan tiap-tiap katanya. Selain itu, dengan dibantu Al-qur’an, mufrodat atau kosakata kita akan menjadi semakin bertambah… : )

5. Mengamalkan dengan cara mengajarkan kepada orang lain.

Cara paling efektif untuk memperlancar bahasa arab adalah dengan cara mengajarkannya kepada orang lain, dengan hal ini, ilmu kita semakin bertambah, dan daya ingat kita terhadap pelajaran menjadi semakin kuat.
Cara lain, jika kita tidak bisa menemukan orang yang mau kita ajari, kita bisa membuat tulisan seperti yang saya lakukan, dan ini terbukti semakin menambah ilmu dan daya ingat saya akan bahasa arab… : )

6. Kontinyu dan senantiasa melaksanakan kelima hal di atas.
Dengan melaksanakan kelima hal di atas secara terus menerus, insyaAllah mempelajari bahasa arab menjadi suatu hal yang mudah dan menyenangkan… : )

Selamat mencoba…
Sumber: http://www.facebook.com

Minggu, 23 Oktober 2011

MAKNA DI BALIK IBADAH KURBAN

Khutbah Idul Adha 1431 H.
Makna di Balik Ibadah Kurban
H. Ilyas Rifai, MA.

Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Maasyiral Muslimin rahimakumullah
Marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah Swt. atas segala nikmat dan karunia-Nya. Di pagi nan indah ini kita masih diberi umur panjang dan kesehatan, sehingga untuk kesekian kalinya kita berkesempatan menikmati keagungan Idul Adha sebagai hari besar Islam untuk mengagingkan Allah, memiji-Nya dan bersyukur kepada-Nya.
Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar Walillahi Hamd
Ada dua peristiwa sakral dan agung pada hari raya idul adha, yaitu disyariatkannya ibadah kurban dan kewajiban ibadah haji, yang kedua-duanya merupakan syariat yang berasal dari sejarah kehidupan Nabiyullah Ibrahim as.
Berkurban (Qurban) secara harfiah, bermakna “dekat”. Berasal dari bahasa Arab qaruba-yaqrubu-qurban-waqurbanan. Yakni sebuah usaha untuk menyingkirkan hal-hal yang dapat menghalangi upaya mendekatkan kita kepada Allah.
Upacara kurban pertamakali dalam sejarah kemanusiaan dimulai oleh kisah Qabil dan Habil, putra Nabi Adam as. Keduanya disuruh berkurban oleh ayah mereka. Habil mempersembahkan hewan yang paling baik dengan hati yang ikhlas. Sementara Qabil berkurban hanya untuk mengalahkan saudaranya. Kisah ini kemudian dicatat dalam QS. Al-Maidah: 27-30. Dan peristiwa ini menjadi tonggak awal sejarah kurban dalam agama Islam.

Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang Sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, Maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). ia Berkata (Qabil): "Aku pasti membunuhmu!". Berkata Habil: "Sesungguhnya Allah Hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa".
"Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, Aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya Aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam."
"Sesungguhnya Aku ingin agar kamu kembali dengan (membawa) dosa (membunuh)ku dan dosamu sendiri, Maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian Itulah pembalasan bagi orang-orang yang zalim."
Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, Maka jadilah ia seorang diantara orang-orang yang merugi. (QS. Al-Maidah: 27-30).

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar Walillahi Hamd
Dalam konteks Idul Adha, berkurban memiliki nilai historis dan pesan makna yang lebih luas. Pertama, hari raya kurban mempunyai kaitan dengan peristiwa Nabi Ibrahim as, yakni, ketika Allah memerintahkan untuk menyembelih putranya Ismail as. Padahal telah sekian lama ia mendambakan kehadiran anak itu dengan berdoa siang dan malam: Rabbi habli minasshalihin (Tuhan, karuniai aku anak yang saleh). Doa itu terkabul, lahirlah seorang anak yang dalam bahasa Al-Quran disebut ghulaman halima (bocah yang lembut).
Ironisnya, ketika anaknya berangkat dewasa, Allah memerintahkan pengorbanan yang paling sulit dilihat dari kepentingan dirinya sebagai seorang ayah dan hamba yang telah lama mendambakan keturunan. Kita bisa membayangkan bagaimana perasaan Nabi Ibrahim as. kala itu. Anak yang didambakan dan menjadi tumpahan rasa kasih sayangnya itu harus rela dikorbankan demi memenuhi perintah Allah. Sungguh! Itu adalah sebuah perjuangan yang sangat berat!

“Tatkala anak itu sampai (pada usia sanggup) berusaha, Ibrahim berkata, ’Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi menyembelihmu. Maka bagaimana pendapatmu?’ Ia menjawab, ‘Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Alloh kamu akan mendapatiku termasuk orang yang sabar’” (QS. Ash-Shaffat: 102)

Meskipun perintah tersebut sebenarnya hanya ingin menguji keimanan Ibrahim, pasalnya, ketika dikaruniai anak, cinta Ibrahim mulai terbagi. Kalau dulu (sebelum berketurunan) dia sangat konsentrasi pada Allah, setelah kehadiran Ismail, konsentrasinya mulai terbelah: pada Allah dan pada anaknya. Karena saking cintanya, Allah pun mengujinya dengan scenario yang tak kalah ektrem, memerintah agar segera menyembelih Ismail as. ternyata Nabi Ibrahim berhasil lulus membunuh “berhala” dalam hatinya. Meski, saat akan dilakukan penyembelihan itu, kemudian Allah menggantinya dengan seekor kambing.

‘Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipisnya, (sehingga terbuktilah kesabaran keduanya), maka Kami panggil dia: ‘Hai Ibrahim, sungguh kamu telah membenarkan mimpi itu. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata’.” (QS. Ash-Shaffat: 103-106)

“Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian. Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.” (QS. Ash-Shaffat: 107-109)

Perintah sembelihlah anakmu, sebenarnya adalah perintah menyembelih segala ego, kerakusan, dan nafsu yang ada di dalam hati, yang itu semua dapat menjadi tabir kedekatan dan hubungan kita terhadap Allah dan sesama manusia. Peristiwa yang memiliki makna yang luar biasa ini sampai kini masih ditradisikan oleh Islam.
Kedua, digantinya Ismail dengan hewan kurban itu juga memiliki latar sejarah. Nabi Ibrahim dilahirkan di sebuah kabilah yang bernama Jurhum. Di kabilah itu, animisme menjadi sebuah kepercayaan, yang kerap melakukan pengorbanan manusia; entah itu anaknya, istrinya, dengan mengatasnamakan Tuhan. Jadi, tradisi kurban itu sudah ada dan sudah terbiasa sekali. Disembelihnya Ismail yang kemudian diganti dengan hewan ternak itu, sebenarnya merupakan simbolisasi diangkatnya esensi harkat dan martabat manusia ke dalam citra kemanusiaannya yang paling mulia. Ia mencontohkan kepada umatnya agar mengubah sebuah tradisi yang tidak memanusiakan manusia tersebut. Karena, pada hakikatnya sesama manusia itu tidak boleh saling membunuh. Allah tidak butuh sesaji atau darah apa pun. Dalam Islam, berkurban hendaknya dimaknai sebagai proses penyucian diri (tazkiatu nafs) atas segala noda dan dosa di dalam ranah diri serta bisa dirasakan oleh orang lain dalam ranah masyarakat.
Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar Walillahi Hamd
Hari ini, begitu usai melaksanakan shalat Id hingga hari-hari tasyrik, tanggal 11, 12, 13 Dzulhijjah, umat Islam yang mampu diperintahkan untuk memotong hewan kurban. Rasulullah mengancam terhadap orang yang mampu tetapi enggan untuk beribadah kurban.

Barangsiapa yang mempunyai kelapangan rezeki tetapi tidak berkurban, makatak patut ia mendekati tempat shalat kami (HR. Ahmad)

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar Walillahi Hamd

Daging kurban itu untuk siapa?
Diriwayatkan, bahwa setiap hari raya Idul Adha tiba, Rasulullah menyembelih dua ekor domba yang gemuk, bertanduk, dan berbulu putih bersih. Sebagian dari dagingnya dimakan oleh Rasulullah dan keluarganya. Sebagiannya lagi ditebarkan kepada fakir miskin.
Dari riwayat tersebut jelaslah, bahwa daging kurban itu diperuntukkan oleh sebagian pelaku kurban dan senagian lainnya untuk fakir miskin. Bukan untuk Allah karena Allah tidak memakan dagingnya. Oleh karena itu, penyembelihan hewan kurban hendaknya diartikan sebagai proses diri menuju ketakwaan. Allah berfirman:

“Tidak sampai kepada Allah daging dan darahnya. Tetapi yang sampai kepada-Nya hanyalah ketakwaanmu” (QS. Al-Hajj: 37).

Jadi, berkurban tidak sekedar ritual persembahan untuk meningkatkan spiritual kita, tetapi juga untuk memperkuat kepekaan dan kepedulian sosial kita. Idul Adha adalah sebuah ibadah untuk mendekatkan diri kita kepada Allah, dengan cara mendekatkan diri kita kepada sesama manusia. Bila ibadah puasa mengajak kita merasakan lapar seperti orang-orang miskin, maka ibadah kurban mengajak mereka untuk merasakan kenyang seperti kita.
Berkurban perlu dimaknai secara lebih luas. Berkurban tidak hanya berhenti dengan penyembelihan seekor kambing atau sapi saja, tetapi segala hal yang kita miliki. Mulai dari perhatian, cinta kasih, kesabaran, tenaga, pikiran, dan lain sebagainya. Maka, bagi orang-orang kaya, arti berkurban bisa berarti berbagi harta, bagi kaum cendikia berkurban berarti membagi sumbang saran dan pikiran, bagi pemilik kekuasaan, berburban berarti memperbaiki kebijakan untuk kemaslahatan umat, sedangkan bagi yang emosional berkurban berarti kesabaran.
Makna ibadah kurban sejatinya adalah menyembelih segala kendala yang menghalangi “perjalanan” kita menuju Allah, yang membuat hati tuli terhadap nilai-nilai etika dan agama. Pendeknya, pada saat kita menyembelih binatang kurban di hari raya ini, hendaknya kita juga “menyembelih” sifat kebinatangan dalam diri kita sendiri; rasa egois, sifat tamak, rakus, juga cinta berlebih terhadap harta dan kekuasaan kita. Kita tidak bisa langsung mendekatkan diri kepada Allah, kecuali setelah memenggal sesuatu; harus ada yang diputus, yaitu elemen-elemen yang menghambat diri untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar Walillahi Hamd
Peristiwa yang dialami oleh Nabi Ibrahim as. dan putranya, Ismail as. serta ketabahan istrinya, Hajar, memberikan contoh dan suri tauladan kepada kita betapa pentingnya fungsi iman bagi kehidupan keluarga agar kita menempatkan kewajiban taat kepada Allah di atas segala-galanya. Artinya, ketaatan kepada Allah harus diletakkan di atas kecintaan seorang ayah terhadap anak, istri, dan kecintaan terhadap harta, jabatan, kesenangan dan kebanggaan lainnya.
Pekik dan gema takbir (Allah Yang Maha Besar) mesti dipahami, sekali kita berketetapan bahwa hanya Allah yang maha besar, dan yang lainnya menjadi kecil. Maka di hari raya ini, marilah kita perbanyak bertakbirlah, bertahlil, dan bertahmid! Mari kita gunakan sebagian harta yang kita miliki untuk berkurba. Rizki yang kita makan akan menjadi kotoran. Rizki yang kita pakai akan menjadi benda usang, dan rizki yang didermakan, itulah yang akan abadi dan bernilai di hadapan Allah Swt. Selamat berkurban, semoga kurban kita merupakan cerminan dari cinta kita kepada Allah, sehingga Allah akan membalas cinta-Nya dengan pahala dan keridlaan-Nya. Amin Ya Rabbal Alamin

MENGENAL KAMUS ARAB-INDONESIA MAHMUD YUNUS

Kamus Arab-Indonesia Mahmud Yunus
H. Ilyas Rifai, MA.

Pendahuluan
Agama Islam adalah agama yang sangat kental dengan pemakaian bahasa Arab. Hal ini kita pahami, dimana bahasa Arab dipakai dalam banyak aktifitas kaum Muslimin, dalam ibadah khususnya dan dalam mempelajari dan mendalami ajaran-ajaran Islam pada umumnya. Seperti ketika kita shalat, berpuasa, berhaji, berwudlu, dan ibadah-ibadah lainnya. Oleh karena itu, bahasa Arab sangatlah penting untuk kita pelajari, kita pahami dan kita ajarkan, karena mempelajari kaidah bahasa Arab merupakan sarana untuk dapat memahami ajaran-ajaran Islam.
Belajar bahasa asing termasuk bahasa Arab memerlukan alat penunjang yang antara lain adalah kamus. Barangkali kesulitan-kesulitan yang terjadi dalam pembelajaran bahasa Arab dalam masalah kebahasaan dapat diatasi dengan bantuan kamus.
Sejarah perkamusan di Indonesia terus berkembang dari masa ke masa. Saat ini terdapat banyak ragam karya leksikografi yang berkembang, baik itu termasuk kamus eka bahasa, dwibahasa, bahkan multi bahasa. Salah satu kamus yang banyak digunakan oleh para pelajar bahasa Arab di Indonesia adalah Kamus Arab-Indonesia karangan Mahmud Yunus yang lebih dikenal dengan sebutan Kamus Mahmud Yunus. Pada makalah ini penulis mencoba untuk mengungkap lebih jauh tentang sejarah kamus Arab-Indonesia tersebut, biografi Mahmud Yunus, serta karakteristik kamusnya, dengan harapan mudah-mudahan pembahasan ini akan menambah wawasan kita khususnya tentang kamus Arab-Indonesia. Namun sebelum itu, untuk lebih memantapkan pembahasan ini, perlu kiranya penulis paparkan sekilas tentang hakikat kamus.

Sekilas tentang Hakikat Kamus
Arti Kamus. Kata ”kamus” bukanlah bahasa Indonesia asli, melainkan diserap dari bahasa Arab ”qamus” dengan bentuk jamaknya ”qawamis”. Kata ini pun pada dasarnya berasal dalam bahasa Yunani ”okeanus” yang berarti ”lautan”. Kamus merupakan buku acuan yang memuat kata dan ungkapan, biasanya disusun menurut abjad berikut keterangan tentang makna, pemakaian dan terjemahannya.
Kamus berguna membantu para pemakai untuk mengenal kata-kata baru berikut maknanya. Selain menerangkan makna kata, kamus juga memuat cara-cara mengungkapkan kata tersebut, menerangkan asal kata serta memberikan contoh-contoh penggunaannya dalam masyarakat. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Samuel Johnson, penyusun Dictionary of the English Language, bahwa fungsi kamus adalah untuk memelihara kemurnian bahasa. Sedangkan Dr. Hamid Shadik Qatibi memandang kata kamus merupakan sinonim dari kata mu’jam dan memiliki fungsi-fungsi sebagai berikut: 1) menemukan makna sebuah kata, 2) menetapkan pelafalan dan cara pengucapan, 3) menetapkan ejaan, 4) menelusuri asal usul sebuah kata, 5) membedakan antara kata yang tak lazim dan tak terpakai serta menjelaskan kata-kata yang murni dan serapan, 6) mengetahui sinonim dan antonim, 7) penggunaan kata-kata sastra dan peribahasa, 8) pengetahuan yang bersifat ensiklopedis.
Macam-macam Kamus. Secara umum, macam-macam kamus dapat dilihat dari beberapa segi antara lain: ruang lingkup isinya, penggunaan bahasanya, sifatnya, ukurannya dan ciri khususnya. Berdasarkan ruang lingkup isinya, kamus terbagi menjadi kamus umum dan kamus khusus. Kamus umum adalah kamus yang memuat segala macam topik yang ada dalam sebuah bahasa, sedangkan kamus khusus hanya memuat kata-kata dari suatu bidang tertentu. Kamus khusus ini memiliki beberapa jenis antara lain: 1) kamus istilah, yakni kamus yang menjelaskan istilah-istilah khusus dalam bidang tertentu, 2) kamus etimologi, yaitu kamus yang menerangkan asal usul suatu kata, 3) kamus peribahasa, yaitu kamus yang menerangkan maksud suatu peribahasa, 4) kamus kata nama khas, yaitu kamus yang hanya menyimpan kata-kata khas (nama tempat, nama tokoh, nama institusi, dll.).
Berdasarkan sifatnya, kamus terbagi kepada kamus standar dan kamus non-standar. Kamus standar adalah kamus yang diakui dan memuat kata-kata yang standar dalam suatu bahasa, sedangkan kamus non-standar yaitu kamus yang memuat kata-kata yang bukan standar.
Berdasarkan penggunaan bahasanya, kamus terbagi tiga macam, yaitu kamus ekabahasa, kamus dwibahasa, dan kamus multibahasa. Kamus ekabahasa adalah kamus yang hanya menggunakan satu bahasa saja. Kata-kata (entry) yang dijelaskan dan penjelasannya terdiri dari bahasa yang sama. Kamus dwibahasa adalah kamus yang menggunakan dua bahasa, yakni kata masukan yang ada dalam kamus diberi padanan atau maknanya dalam bahasa lain. Sedangkan kamus multibahasa adalah kamus yang sekurang-kurangnya menggunakan tiga bahasa atau lebih.
Sedangkan berdasarkan sifatnya, kamus terbagi ke dalam kamus mini, kamus kecil, dan kamus besar. Kamus mini sering disebut dengan kamus saku, karena bentuknya yang kecil dan bisa diisimpan di dalam saku, biasanya tebalnya kurang dari 2 cm. Kamus kecil memiliki ukuran yang tidak terlalu besar, tetapi lebih besar daripada kamus saku. Kamus ini memiliki sifat bisa dibawa ke mana-mana. Sementara kamus besar biasanya dapat memuat segala leksikal yang terdapat dalam suatu bahasa. Setiap kata yang dijelaskan maksudnya secara lengkap dan biasanya ukurannya besar dan sulit untuk dibawa ke mana-mana.

Biografi Mahmud Yunus
Mahmud Yunus dilahirkan di desa Sungayang, Batusangkar, Sumatra Barat, tepatnya pada hari Sabtu 10 Pebruari 1899 (30 Ramadlan 1361). Beliau merupakan salah seorang pembaharu pengajaran bahasa Arab di Indonesia. Ia lahir dari keluarga tokoh agama yang cukup terkemuka. Ayahnya bernama Yunus bin Incek, sedangkan ibunya bernama Hafsah binti Imam Samiun yang merupakan anak Engku Gadang M. Tahir bin Ali, seorang ulama besar di Sungkayang Batusangkar.
Sejak kecil, Mahmus Yunus dididik dalam lingkungan agama. Dia tidak pernah masuk di sekolah umum. Ketika menginjak usia tujuh tahun (1906), ia mulai belajar al-Quran serta ibadah lainnya. Gurunya adalah kakeknya sendiri, yaitu M. Thahir. Ia sempat menimba ilmu selama tiga tahun di sekolah desa, tahun 1908. Namun saat duduk di kelas IV, dia merasa tidak betah lantaran seringnya pelajaran kelas sebelumnya diulangi. Dia pun memutuskan untuk pindah ke madrasah yang berada di Surau Tanjung Pauh yang bernama Madras School, asuhan Syeikh HM. Thalib Umar, seorang tokoh pembaharu Islam di Minangkabau. Berkat ketekunan dalam waktu empat tahun saja, Mahmud Yunus telah sanggup mengajarkan beberapa kitab, antara lain Mahalli, al-Fiyah, dan Jam’ul Jawami’. Dan melalui karya-karya gurunya itu, Mahmud dapat menyerap semangat pembaharuan yang dibawa.
Saat Mahmud belajar di Madras School antara tahun 1917-1923, di Minangkabau tengah tumbuh gerakan pembaharuan Islam yang dibawa oleh para alumni Timur Tengah. Umumnya pembaharuan Islam terwujud dalam dua bentuk; pirifikasi dan modernisasi. Adapun gerakan yang dilakukan oleh para alumni adalah gerakan purifikasi, yakni gerakan untuk mengembalikan Islam ke zaman awal Islam dan menyingkirkan segala tambahan yang datang dari zaman setelahnya.
Mahmud Yunus mulai terlibat dalam gerakan pembaharuan saat berlangsungnya Rapat Besar Ulama Minangkabau tahun 1919 di Padang panjang. Dia diminta untuk mewakili gurunya. Pertemuan itu secara langsungmaupun tidak langsung memperngaruhi pola pemikiran pembaharuan Mahmud Yunus, terutama berkat pandangan-pandangan yang dikemukakan sejumlah tokoh pembaharu seperti Abdullah Ahmad serta Abdul Kamir Amrullah (Hamka). Bersama staf pengajar lainnya yang aktif di gerakan pembaharuan, tahun 1920 Mahmud membentuk Perkumpulan Pelajar Islam di Sungayang yang bernama Sumatra Thawalib. Salah satu kegiatan kelompok ini adalah menerbitkan Majalah Al-Basyir dengan Mahmud Yunus sebagai pemimpin redaksinya. Interaksi yang kian intens dengan gerakan pembaharu, mendorongnya untuk menimba ilmu lebih jauh di Mesir.
Berkat kegigihannya, Mahmud Yunus akhirnya dapat menimba ilmu ke Al-Azhar, Kairo, Mesir tahun 1924. Di sana ia mempelajari ilmu ushul fiqih, ilmu tafsir, fiqih Hanafi, dan sebagainya. Mahmud Yunus adalah seorang mahasiswa yang cerdas. Hanya dalam tempo satu tahun, ia berhasil mendapatkan Syahadah Alimiyah (Akta Mengajar) dari Al-Azhar dan menjadi orang Indonesia kedua yang memperoleh predikat itu. Sekalipun sudah mendapatkan ijazah, namun beliau merasa belum cukup dengan apa yang telah diperolehnya lantaran peningkatan pengetahuan umumnya belum terpenuhi. Dia pun berkeinginan untuk menajutkan studinya ke Madrasah Darul Ulum yang memang mengajarkan pengetahuan umum. Mahmud Yunus kemudian meneguhkan diri untuk mengikuti seluruh persyaratan yang diminta dan terbukti mampu memenuhinya. Dia dimasukkan sebagai mahasiswa di kelas bagian malam. Semua mahasiswanya berkebangsaan Mesir kecuali Mahmud Yunus. Dia tercatat sebagai orang Indonesia pertama yang masuk di Darul Ulum, Kairo.
Tahun 1929, dia mendapat Ijazah Diploma Guru dengan spesialisasi bidang Ilmu Pendidikan. Setelah itu, dia kembali ke kampung halamannya di Singayang, Batusangkar. Gerakan pembaharuan di Minagkabau saat itu semakin berkembang. Hal ini sangat menggembirakan Mahmud Yunus. Pada tahun 1931, ia pun mendirikan dua Lembaga Pendidikan Islam di Padang. Di dua lembaga inilah ia menertapkan pengetahuan dan pengalamannya yang didapai di Darul Ulum, Kairo. Dua penekanan dalam pembaharuan Mahmud Yunus di lembaga pendidikanya yakni pengenalan pengetahuan umum dan pembaharuan pengejaran bahasa Arab. Pengajaran pengetahuan umum di sekolahnya sebenarnya tidaklah baru, tahun 1909 Abdullah Muhammad sedah mengajarkan ilmu berhitung dan bahasa Eropa di Adabiyah School. Sementara Mahmud menambahkan beberapa pelajaran umum semisal ilmu alam, hitung dagang, dan tata buku.
Profesi sebagai guru semenjak masih menjadi pelajar di Surau Tanjung Pauh sudah ia geluti. Kemampuannya bahkan semakin menonjol terutama setelah ia kembali dari Mesir. Secara terus menerus Mahmud Yunus mengajar dan memimpin berbagai lembaga pendidikan, yakni pada al-Jami’ah al-Islamiyah Batusangkar (1931-1932), Kulliyah Mu’allimin Islamiyah Normal Islam Padang (1932-19460, Akademi Pamong Praja di Bukit Tinggi (1948-1949), Akademi Dinas Ilmu Agama (ADIA) Jakarta (1957-1980), menjadi Dekan dan Guru Besar pada Fakultas Tarbiyah IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta (1960-1963), Rektor IAIN Imam Bonjol Padang (1966-1071). Atas jasa-jasanya di bidang pendidikan ini, pada 15 Oktober 1977, Mahmud Yunus memperoleh gelar Doctor Honoris Causa di bidang Ilmu Tarbiyah dari IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Banyak tulisan yang yelah dihasilkan oleh Mahmud Yunus dalam berbagai bidang, seperti pendidikan, bahasa Arab, fiqih, ushul fiqih, tafsir, akhlak, sejarah, perbandingan agama, ilmu jiwa, dakwah, yang ia tulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Arab. Sejak awal tahun 1970, kesehatan Mahmud Yunus mulai menurun, dan sering bolak-balik masuk rumah sakit. Akhirnya, pada tanggal 18 Januari 1983, dalam usia 83, beliau berpulang ke Rahmatullah di kediamannya, kelurahan Kebon Kosong, Jakarta Pusat, dan dimakamkan di pemakaman IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Adapun karya-karya Mahmud Yunus antara lain:
1. Akhlak, untuk Aliyah
2. Alif Ba Ta wa Juz Amma
3. Allah dan Mahluk-Nya: Ilmu Tauhid menurut Al-Quran
4. Al-Mukhtarat li al-Muthala’ah wa al-Mahfudzat
5. At-Tarbiyah wa at-Ta’lim
6. Beberapa Kisah Pendek, untuk SD
7. Beriman dan Berbudi Pekerti, untuk SD
8. Dasar-dasar Negara Islam
9. Do’a-do’a Rasulullah, untuk Tsanawiyah
10. Haji ke Mekkah, untuk SD
11. Hukum Perkawinan dalam Islam, 4 Mazhab.
12. Hukum Warisan dalam Islam, untuk Aliyah
13. Ilmu Jiwa Kanak-kanak
14. Ilmu Mushthalahul Hadits, bersama H. Mahmud Aziz
15. Ilmu Perbandingan Agama
16. Juz Amma dan Terjemahnya
17. Kamus Arab-Indonesia
18. Kesimpulan Isi Al-Quran, untuk Muballigh/Umum
19. Kumpulan Do’a
20. Lagu-lagu Pendidikan Agama/Akhlak, bersma Kasim St. M. Syah
21. Mabadi al-Fiqhu al-Wadhih
22. Manasik Haji untuk Orang Dewasa
23. Marilah ke Al-Quran, untuk Tsanawiyah/PGA bersama H. Ilyas M. Ali
24. Metodik Khusus Bahasa Arab, Fak. Tarbiyah/PGAA
25. Metodik Khusus Pendidikan Agama, Fak. Tarbiyah/PGAA
26. Moral Pembangaunan dalam Islam, untuk Aliyah
27. Muhadatsah al-Arabiyyah
28. Muhadharat al-Israiliyyat fi at-Tafsir wa al-Hadits
29. Pedoman Dakwah Islamiyyah
30. Pelajaran Huruf Al-Quran
31. Pelajaran Sembahyang untuk Orang Dewasa
32. Pendidikan di Negara-negara Islam dan Intisari Pendidikan Barat
33. Pengetahuan Umum Ilmu Mendidik, bersama St. M. Said
34. Pokok-pokok Pendidikan dan Pengajaran, Fak. Tarbiyah/PGAA
35. Puasa dan Zakat, untuk SD
36. Riwayat Rasul Dua Puluh Lima, bersama Rasyidin/Zubir Usman
37. Sejarah Islam di Minagkabau
38. Sejarah Pendidikan Islam
39. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia
40. Soal Jawab Hukum Islam
41. Surat Yasin dan Terjemahannya (Arab Melayu)
42. Tafsir Al-Fatihah
43. Tafsir al-Quran (30 juz)
44. Tafsir Ayat Akhlak
45. Terjemah Tafsir al-Quran
46. Tarikh al-Fiqhu al-Islami
47. Tarikh al-Islam
48. Al-Adyan
49. Mudzakarat Ushul al-Fiqh
50. Durus at-Tauhid
51. Ilmu an-Nafs
52. Beberapa Kisah Nabi dan Khalifahnya
53. Asy-Syuhuru al-Arabiyyah fi Biladi al-Islamiyyah
54. Khulashah Tarikh al-Ustaz Mahmud Yunus
55. Durus al-Lughah al-Arabiyyah ’ala Thariqati al-Haditsah Jilid 1-2
56. Kamus al-Quran Jilid 1-2
57. Al-Fiqhu al-Wadhih Jilid 1-3
58. Durus al-Lughah al-Arabiyyah Jilid 1-3
59. Pemimpin Pelajaran Agama Jilid 1-3, untuk SMP
60. Keimanan dan Akhlak Jilid 1-4, untuk SD
61. Marilah Sembahyang Jilid 1-4, untuk SD
62. Pelajaran Bahasa Arab Jilid 1-4.

Kamus Mahmud Yunus
Sebelum menyusun Kamus Arab-Indonesia, pada tahun 1930 saat Mahmud Yunus menuntut ilmu di Al-Azhar Kairo, beliau sempat menyusun kamus yang dinamai Kamus al-Zahabi. Kamus ini adalah kamus Arab-Melayu dan bisa dikatakan bahwa kamus Mahmud Yunus merupakan kamus pertama yang dihasilkan oleh putra Indonesia. Sementera kamus Arab-Indonesia Mahmud Yunus baru beliau susun pada tahun 1972. Kamus ini disusun saat Mahmud Yunus telah kembadi dari Mesir.
Penyusunan kamus ini dilatarbelakangi oleh tuntutan dari masyarakat, guru-guru dan para pelajar agar mencentek ulang kamus Zahabi supaya dapat membantu mereka dalam belajar bahasa Arab. Namun dengan beberapa pertimbangan, penyusun keberatan untuk mencetak ulang kamua al-Zahabi karena dirasa banyak kekurangannya. Hal inilah yang mendorong beliau untuk menyusun kamus Arab-Indonesia. Keputusan Mahmud Yunus untuk menyusun kamus Arab-Indonesia tampaknya tepat sebagai pengganti untuk mencetak kamus Arab-Melayu, dimana saat itu masyarakat Indonesia sudah hidup dalam alam kemerdekaan dan telah menetapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi negara dan bahasa nasional. Dan hampir seluruh pelajar di seluruh pelosok nusantara mengenal dan menggunakan kamus ini. Karena ukurannya yang sedang dan ringan memudahkannya untuk dibawa ke mana-mana.

Sistematika Kamus Mahmud Yunus
Dalam penyusunan kamus ini, penyusun menyajikan pendahuluannya dengan bahasa Indonesia yang memakai huruf Latin. Kamus ini secara umum cocok digunakan untuk para pemula dan siapa saja yang hendak belajar bahasa Arab, meskipun mereka belum mahir dlam ilmu sharaf. Dalam kamus ini, selain berisi kata-kata Arab baru, diterangkan juga tafsir-tafsif sulit yang tidak dapat diketahui dengan kaidah-kaidah (wazan-wazan) ilmu sharaf, melainkan harus dihafal dan didengar dari orang Arab asli (kata-kata sama’i).
Dalam susunannya, kamus ini menetapkan lema (entry) dalam bentuk fi’il madhi, sehingga pencarian kata dalam bentuk apapun harus dikembalikan ke dalam bentuk asalnya (fi’il madhi). Misalnya kalau ingin mencari kata دَرْسٌ, مُدَرِّسٌ, atau مَدْرَسَةٌ, maka pencarian kata tersebut harus berangkat dari entri دَرَسَ. Sehingga penguna kamus (pelajar) tidak menjadi kesulitan dengan pola seperti ini walaupun mereka belum mempelajari ilmu sharaf. Menurut Mahmud Yunus, yang memudahkan bahasa Arab adalah karena bahasa itu mempunyai wazan-wazan (neraca, timbangan). Apabila wazan-wazan itu dihafal, maka dapat diketahui kata-kata lain dengan cara mengkiaskan dan mencontohkan kepada wazan itu.
Bahasa lema kamus ini adalah bahasa Arab dan bahasa penjelasnya adalah bahasa Indonesia. Kamus ini ukurannya sedang dan ringan sehingga mudah untuk digunakan dan dibawa ke mana-mana. Sebegai pelengkap, pada kamus ini terdapat kosa kata bergambar yang disajikan menurut kelompok katanya. Hal ini dapat membantu para pelajar untuk belajar bahasa Arab secara visual tanpa perlu menghafalkan mufradat dan dapat membedakan satu makna kata dengan makna lainnya, contoh dalam kata كِتابٌ dan سَبُّورَةٌ. Kosa kata bergambar ini terletak antara pendahuluan dan bab alif sebagaimana dalam kamus al-Marbawi.
Sebagai pelengkap lainnya, pada bagian akhir kamus ini dilengkapi dengan Cara Penggunaan Kamus, Daftar Kata-kata Singkatan, dan Daftar Pustaka yang menjadi rujukan kamus tersebut.

Karakteristik Kamus Mahmud Yunus
Kamus Mahmud Yunus memiliki beberapa karakterisatik, antara lain:
1. Menyebutkan fi’il dan mashdar-nya
Contoh: melayani خَدَمَ يَخْدُمُ خِدْمَةً (Mahmud Yunus: 114)
2. Menjelaskan dua arti, yakni arti sharaf dan arti kamus
Contoh: penduduk (yang mendiami) سَاكِنٌ (Mahmud Yunus: 174)
3. Adanya penambahan na’at dan idhafat
Contoh: sekolah rendah مَدْرَسَةٌ اِبْتِدَائِيَّةٌ
sekolah SMP مَدْرَسَةٌ إِعْدَارِيَّةٌ
sekolah SMA مَدْرَسَةٌ ثَانَوِيَّةٌ
penjaga sekolah خَادِمُ المَدْرَسَةِ
kelas sekolah فَصْلُ المَدْرَسَةِ
direktur sekolah مُدِيْرُ المَدْرَسَةِ (Mahmud Yunus: 126)
4. Menyebutkan macam-macam makna kata sesuai konteks
Contoh: mengajak (kepada) دَعَا إِلَى
mendo’akan kejahatan دَعَا عَلَيْهِ
mendo’akan kebaikan دَعَا لَهُ (Mahmud Yunus: 127)
5. Menyebutkan satu kata dalam beberapa wazan
Contoh: mengetahui sesuatu عَلِمَ
mengajarkan, melatih عَلَّمَ
memberi tahu أَعْلَمَ
belajar, mengaji تَعَلَّمَ
meminta mengetahui اِسْتَعْلَمَ (mahmud Yunus: 277)
6. Menyebutkan sinonim (mutaradif)
Contoh: melatih عَلَّمَ (هَذَبَ) (Mahmud Yunus: 277)
7. Menyebutkan bentuk jama’ taksir-nya
Contoh: ilmu pengetahuan عِلْمٌ جـ عُلُوْمٌ
yang berilmu, alim عَالِمٌ جـ عُلَمَاءُ (Mahmud Yunus: 278)
8. Menyebutkan muannats-nya
Contoh: yang menuntut, yang meminta طَالِبٌ م طَالِبَةٌ (Mahmud Yunus: 238)

Sumber-sumber Kamus Mahmud Yunus
Dalam menyusun kamus Arab-Indonesia ini, Mahmud Yunus merujuk kepada beberapa kamus sebelumnya, antara lain:
1. Al-Mishbah al-Munir, Ahmad al-Muqri
2. Al-Mu’jam al-Washith, Majma al-Lughah al-Arabiyah
3. Al-Mufradat fi Gharib al-Quran, Al-Raghib al-Ashfahani
4. Al-Qamus al-Ashri, Elias A. Elias
5. Kalimat al-Quran, Hasanain M. Makhluf
6. Kamus al-Zahabi, Mahmud Yunus/HMK Bakry
7. Kamus Arab-Melayu, Muhd. Fadhlullah/Th. Brondgeet
8. Kamus Idris al-Marbawi, Mhd Idris al-Marbawi
9. Kamus Modern Bahasa Indonesia, St. Mohd. Zain
10. Kamus Umum Bahasa Indonesia, WJS Poerwadarminta
11. Kamus Umum Inggris-Indonesia, S. Wojosawito dkk.

Kesimpulan
Kamus merupakan penopang utama dalam belajar bahasa Arab. Kamus berguna membantu para penggunanya untuk mengenal kata-kata baru, maknanya, serta penjelasan-penjelasan lainnya yang berkaitan dengan suatu kata.
Kamus Kamus Arab-Indonesia Mahmud Yunus adalah kamus Arab-Indonesia yang pertama disusun oleh orang Indonesia pada tahun 1972. Kamus ini disusun sekembalinya beliau menuntut ilmu di Universitas Al-Azhar Kairo. Kamus ini merupakan penyempurna dari kamus Arab-Melayu Az-Zahabi yang beliau susun sebelumnya. Kamus Arab-Indonesia ini adalah kamus yang sangat populer di kalangan pelajar bahasa Arab di Indonesia, di samping mudah dalam menggunakannnya, juga karena ukurannya yang sedang sehingga mudah untuk dibawa ke mana-mana sehingga tidak heran apabila hampir seluruh pelajar di seluruh pelosok nusantara mengenal dan menggunakan kamus ini. Sekalipun kamus ini sudah lama tetapi hingga saat ini belum berhenti di cetak karena masih banyaknya peminat dan pengguna kamus ini.

Referensi
Mahmud Yunus, Kamus Arab-Indonesia, Hidakarya Agung, Jakarta, 1990.
Moh. Mansyur & Kustiwan, Dalil al-Katib wa al-Mutarjim: Pedoman bagi Penerjemah Arab-Indonesia Indonesia-Arab, Asma Publishers, Jakarta, 2002
Syarif Hade Masyah, Teknik Menerjemah Teks Arab 1, Trans Pustaka, Tangerang, 2005.
Syihabudin, Penerjemahan Arab Indonesia: Teori dan Praktek, Humaniora, Bandung, 2005.

http://irhashshamad.blogspot.com/2008/12
http://pusat-akademik.blogspot.com/2208/10
http://muslim.or.id
http://jaguarspsuinjkt.blogspot.com/2008/11/sejarah-perkamusan-i-indonesia.html